Relevansi Pemikiran Religius Bung Karno Untuk Membantu Kita Berimajinasi

1 05 2011
BUNG Karno kira-kira berkata begini, "Tubuh bisa ditiadakan, tetapi roh
tidak". Bung Karno telah tiada, tapi rohnya, bahasa dan spiritnya masih
hidup, tidak bisa ditiadakan, bahkan tidak bisa dibiarkan berlalu tanpa
tarikan empati, lebih-lebih masa sekarang. Di tengah krisis serba muka
seperti yang terjadi beberapa tahun terakhir ini, roh Soekarno hidup
kembali, seolah-olah berkata: "Katakanlah sekarang tentang apa yang telah
saya katakan waktu dahulu". Yang kita butuhkan sekarang adalah "kata" atau
wacana, yang membawa proses penyadaran, pencerahan, dan membuat kita
berpikir, berimajinasi.

Kiranya tak berlebihan apabila saya sebutkan bahwa Bambang Noorsena dengan
tulisannya tentang Religi & Religiusitas Bung Karno (Institute for Syriac
Christian Studies, Malang, Jawa Timur, 2000) telah menunjukkan kepekaannya
untuk merespons ajakan untuk berkata-kata tentang roh yang hidup itu.
Bambang Noorsena (BN) sebagai anak bangsa yang sadar tentang hari kemarin,
tampak sadar pula bahwa sebuah keharusan sejarah, apabila ia mau berpikir
tentang masa depan, dan harus mau bicara dengan "orang tua" yang telah turut
melahirkan bangsanya. Bicara tentang atau dengan Bung Karno sebagai roh yang
hidup, tak bisa tidak, kita akan bertemu dengan ratusan riwayat yang telah
ditulis, baik oleh orang asing maupun oleh penulis dalam negeri.

***

Percakapan BN dengan Bung Karno dalam buku ini banyak didasarkan atas kajian
yang dilakukan oleh para pengamat luar negeri, yang tak bisa disangkal
banyak kali lebih jeli ketimbang penulis dalam negeri. Tetapi, dengan buku
ini BN menunjukkan dengan terang bahwa sekalipun ia banyak memakai
kajian-kajian dari para ahli di luar negeri, namun ia tetap ingin menemui
Soekarno "dari dalam", khususnya dari kepentingan yang didorong oleh
kebutuhan masyarakat untuk mencari perspektif demi melihat hubungan
antar-etnis dan antar-agama secara baru di negeri ini.

Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam pidato pelantikannya pada 20
Oktober 1999, sebagaimana dikutip oleh BN, berkata, "Kita tengah didera oleh
perbedaan faham yang sangat besar. Dan longgarnya ikatan-ikatan kita sebagai
bangsa. Apa yang oleh Bung Karno diajarkan, ... kita mempunyai alasan untuk
menjadi satu bangsa...". Dalam kutipan ini kita memperoleh titik tolak yang
sungguh kena untuk berbicara tentang pikiran-pikiran utama Bung Karno
tentang religi dan religiusitas. Adapun alasan utama yang tampak menggejala
di masyarakat adalah bahwa perbedaan faham yang besar itu juga terdapat
dalam kehidupan beragama. Kenyataan ini pula turut menyebabkan longgarnya
ikatan kita sebagai bangsa.

Apa yang dilakukan oleh BN bukan sekadar mengedepankan apa yang dikatakan
oleh Bung Karno, tetapi berusaha memakai umpan baru untuk memancing
pemikiran Bung Karno tentang berbagai hal yang merisaukan dalam konteks
kehidupan masyarakat sekarang. BN melakukan "penggeseran-penggeseran"
tertentu atas gagasan-gagasan Bung Karno, dan menamainya dengan term baru
yang lebih kontemporer. Posisi spiritual Bung Karno dilapisi dengan
kata-kata baru agar lebih tinggi supaya tampak oleh banyak orang.
Ungkapan-ungkapan seperti passing over, etika global, holistic spirituality,
panentheisme, sakramentalis, teologi kerukunan, dialog, dan lain-lain
merupakan upaya untuk memperoleh roh yang hidup dari Bung Karno. Pemahaman
yang dilakukan oleh BN memang dimungkinkan oleh posisi Bung Karno sendiri
yang terbuka, dan seolah-olah berstatus selaku bahan yang belum "jadi",
serta tersedia bagi para pemikir kreatif generasi sesudahnya. Gagasan Bung
Karno laksana bahan bangunan yang tersedia bagi para arsitek untuk
membentuknya menjadi bangunan yang diingininya, baik fungsinya maupun
keindahannya.

***

Pada tataran pemikiran keagamaan yang begitu luas, kaya dan bermacam ragam,
pilihan-pilihan untuk memahami religi dan religiusitas Bung Karno terbentang
lebar. Lebih-lebih lagi bila pikiran-pikiran Bung Karno didekati dari sisi
spiritualitas. Akan segera tampak bahwa kehidupan spiritual Bung Karno dari
sejak masih muda tidak hanya diilhami oleh agama-agama semitik yang dikenal
sebagai Abrahamic faiths yang berciri monoteis, misioner, doktriner,
reaksional, dan bercorak politis. Ternyata, religiusitas Soekarno juga
dibentuk oleh pertemuannya dengan "agama-agama Timur" yang memiliki
karakteristik yang berbeda dengan agama-agama turunan Ibrahim atau Abraham,
khususnya yang telah diperkembangkan di dunia Barat.

Latar belakang Kejawen, Hindu dan Buddhisme amat kuat mendasari
spiritualitas Soekarno sehingga ia jauh dari sifat "ortodoks-dogmatis" dalam
pemikiran keagamaannya, dan tidak bercorak formal santri dalam keislamannya.
Soe-karno menyenangi bentuk sufisme yang bebas, agama yang diperlukan
sebagai "bahasa kasih sayang", bahkan agama yang penuh pasi (passion).
Sekalipun kita tahu bahwa kontroversi tentang hal itu juga masih terbuka
untuk dijadikan diskursus yang kritis. Setidak-tidaknya posisi keagamaan
Soekarno berbeda misalnya dengan Haji Agus Salim, A Hassan, dan Mohammad
Natsir, yang dikenal sebagai pemikir-pemikir Islam yang bercorak ortodoks
(rasional dan bercorak doktriner).

Bernard Dahm dalam ke-"jerman"-annya bertindak terhadap Bung Karno seperti
Karl May terhadap Winnetou. Menjadi jiwa yang menarik dan amat imajinatif;
bukan hanya karena Dahm selama menulis tentang Soekarno belum pernah ke
Indonesia, boro-boro ketemu dengan Bung Karno. Di bayangan Dahm Bung Karno
total menjadi seorang tokoh dalam sebuah epos. Dari awal yang bersandar pada
"local genius" yang amat diapresiasikan oleh Dahm, sampai kepada keyakinan
Bung Karno yang tidak ada duanya, dan amat kategoris terhadap "nasionalisme,
agama, dan marxisme". Seolah-olah ketiganya merupakan doktrin trinitas dalam
agama Kristen yang tak bakal ditinggalkan sampai kapan pun dunia akan
berakhir.

Bung Karno tidak mau menyerahkan apa yang sudah dimilikinya, bahwa ketiga
hal tersebut merupakan kenyataan substansial dan sekaligus pilar bagi
eksistensi Indonesia. Menurut Dahm, Bung Karno tak mau mundur selangkah
untuk mempertahankan keyakinan tentang "ketiga yang esa" tersebut.
Seolah-olah Bung Karno rela mati demi "iman" yang telah ditemukannya, yaitu
keyakinannya kepada "nasionalisme", sosialisme, dan agama". Ideologinya,
bersama dengan Pancasila baginya merupakan sesuatu yang "ultimate" untuk
Indonesia yang bersama Hatta ia proklamasikan. Bagaimanapun dalam kaitan
ini, keadilan bagi Soekarno harus ditegakkan kembali, sebagai bapak bangsa
yang punya pendirian teguh dan memiliki keyakinan.

Di tengah padang spiritualitas yang mahaluas, dengan fungsinya yang khusus
untuk mendukung perjuangan kemerdekaan lewat nasionalisme, Soekarno bertahan
dan tidak mau bergeser sedikit pun dari tempatnya. Bung Karno menempatkan
agama selaku kekuatan "revolusioner" untuk mendukung nasionalisme Indonesia.
Imajinasi Bung Karno tentang nasionalisme dan faham kebangsaan bukan sekadar
olah intuisi dan imajinasi tanpa pijakan realitas. Peristiwa proklamasi 17
Agustus 1945 merupakan titik pusat dari keberhasilan menggalang nasionalisme
sejak ia masih menjadi mahasiswa. Nasionalisme untuk melawan penjajahan,
yang berupaya menemukan jati diri, "self-esteem", dan kepribadian nasional.

***

Di masa Perang Dingin, ketika blok Barat berhadapan frontal dengan blok
Timur, agaknya tantangan yang dihadapi Soekarno melebihi takaran yang bisa
ia tanggung. Muatan konflik yang tak terdamaikan antara kubu kapitalisme dan
sosialisme di tingkat internasional agaknya terlalu besar untuk dituang
dalam mangkuk konteks kehidupan politik Soekarno yang hanya sebatas
nasionalisme Indonesia. Alhasil, muatan itu meluap tumpah ruah, serta
menimbulkan gejolak di dalam negeri yang tak terbendung, serta menimbulkan
korban besar di sekitar tahun 1965.

Akan tetapi, di masa pasca-Perang Dingin sekarang ini telah tiba momentum
untuk memikirkan kembali relevansi pemikiran-pemikiran penting Soekarno,
khususnya dalam soal hubungan agama. Sekarang terbuka kemungkinan untuk
mengurai pemikiran dari "local genius" pemikir politik Indonesia tanpa rasa
minder. Kita tidak lagi menanggung beban psikologis, baik yang menggejala
dalam bentuk xenophobia maupun dalam bentuk sikap ketergantungan kepada
bangsa lain tanpa harga diri. Saatnya telah tiba untuk menggali kembali
pikiran-pikiran dari para bapak dan ibu bangsa.

Yang terasa menyegarkan dari tulisan Bambang Noorsena adalah karena ia tidak
hanya berhenti pada polemik tentang karya besar Clifford Geertz dari bukunya
The Religion of Java, tetapi juga melanjutkan runutannya jauh ke belakang,
dan sampai kepada karya Empu Tantular Sutasoma. Karya ini merupakan sebuah
tradisi pemikiran yang menjadi cikal-bakal dari khazanah kebudayaan Jawa
yang melahirkan Soekarno. Dari sanalah lahir pemikiran tentang hubungan
antara negara dan agama, dan sekaligus hubungan antar-agama di masyarakat.
Tantularisme, di masa yang penuh krisis dan gejolak sekarang ini memberikan
inspirasi yang luar biasa kuat untuk membingkai kembali keterpecahbelahan
bangsa menjadi sebuah kesatuan yang utuh.

Adapun konsep Soekarno tentang "panteisme-monoteisme" oleh BN digeser
menjadi "panentheisme". Satu merupakan ekspresi dari yang lain, dan manusia
tak mungkin mengenal Tuhan tanpa alam semesta, termasuk di dalamnya dunia
manusia. Ungkapan lain yang barangkali akan lebih bisa diterima oleh tradisi
pemikiran agama di Indonesia, adalah "panin-teisme". Di dalam istilah ini
alam semesta dimasukkan ke dalam sebuah kepercayaan theisme. Dengan kata
lain, alam semesta itu berada dalam naungan Tuhan, implikasinya adalah bahwa
Tuhan adalah yang pertama dan utama, lebih besar dari alam semesta; dan oleh
sebab itu meliputi dan menguasai alam semesta sehingga secara eksplisit bisa
dikatakan bahwa alam semesta adalah ciptaan Tuhan, tetapi Tuhan, dalam
bentuk tertentu yang bisa dikenal manusia berada di dalamnya. Alam semesta
adalah "teks" yang melukiskan kebesaran Tuhan. Kehadiran-Nya di dalam alam
semesta adalah tetap kehadiran yang harus dimaknai sebagai kehadiran sebagai
pencipta. Konsep itu merupakan suatu wadah bagi kesadaran dan tanggung jawab
akan alam, lingkungan, dan sesama manusia, dan sekaligus sebagai dasar bagi
kesadaran akan pluralisme agama, dialog dan kerja sama antarpara pemeluk
agama.

***

Para pengamat dan para ahli dengan penuh empati memberikan persetujuan
terhadap berbagai gagasan Soekarno, tetapi baru sedikit yang benar-benar
memberikan kajian yang cukup mendalam terhadap berbagai implikasi pemikiran
Soekarno tentang religi yang ditawarkannya. Pada masa sekarang ini ketika
religi dan seluruh bangsa dan negara Indonesia berada dalam krisis
multidimensional, muncul sebuah kebutuhan baru untuk menggali kembali
pikiran-pikiran para founding fathers untuk memperdalam dan memperluas
persepsi tentang persoalan-persoalan yang dihadapi oleh bangsa dan negara.
Upaya-upaya serius digelar untuk memulai wacana baru dengan pijakan
pemikiran yang telah ada dalam khazanah sejarah Indonesia.

***

Bambang Noorsena telah berusaha memulai tugas penggalian terhadap salah satu
founding fathers yang terpenting yaitu Soekarno. Dengan suatu pendekatan
"dari dalam", dalam arti dengan penuh empati menelaah pemikiran Soekarno dan
sekaligus berusaha untuk memanfaatkannya sebagai cermin untuk memahami dan
mencari jalan keluar terhadap kemelut hubungan antar-etnis dan khususnya
antar-agama di negeri ini, beberapa tahun terakhir ini.

Menurut saya, Bambang Noorsena berhasil memetik beberapa puncak pemikiran
Soekarno tentang religi dan religiusitas guna menjembatani konflik yang
sekarang ini sedang terjadi. Dengan melacak jauh ke belakang kepada
pemikiran-pemikiran Empu Tantular, "Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma
Mangrowa", kita telah menemukan kearifan baru dari masa lampau yang lahir
dari pengalaman dan refleksi lokal. Tatapan terhadap "Tantularisme" tersebut
telah memberikan suatu basis "universal" bagi agama-agama, khususnya
agama-agama dalam tradisi Abrahamik (Yahudi, Kristen, dan Islam) untuk
bercermin dalam suasana kehidupan yang penuh respek, toleransi, dialog, dan
kerja sama demi mewujudkan masyarakat yang diingini bersama. Dengan konsep
"panteisme-monoteisme" yang dirumuskan oleh Soekarno sendiri, agama-agama
dibuka untuk menghargai alam, baik alam maupun kehidupan manusia.

Keunggulan spiritualitas Bung Karno saya kira terletak pada kenyataan bahwa
ia menyadari keterbatasan dari bentuk-bentuk ekspresi keagamaan yang
menggejala (manifest) di masyarakat. Kelonggaran ini memberi peluang bagi
para penganut agama yang berbeda untuk saling menghargai keunikan
masing-masing keyakinan, serta membuka kemungkinan untuk saling memperkaya
satu dengan yang lain, dan terutama untuk saling membuka kemungkinan untuk
bekerja sama di masyarakat guna memecahkan soal-soal kemanusiaan bersama.
Dalam buku BN, Soekarno muncul kembali sebagai "batu penjuru" yang bisa
mengukur lurusnya bangunan sebuah bangsa.

* Th Sumartana, Direktur Institut Dian/Interfidei, Yogyakarta.

Kompas CyberMedia
Senin, 14 Mei 2001

——————————————-


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: