Sejarah Nasionalisme Indonesia

28 04 2011

Nasionalisme menurut beberapa ahli dikemukakan sebagai berikut :

Nasionalisme adalah suatu situasi kejiwaan dimana kesetiaan seseorang secara total diabdikan kepada negara dan bangsa atas nama sebuah bangsa. Munculnya nasionalisme terbukti sangat efektif sebagai alat perjuangan bersama merebut kemerdekaan dari cengkraman kolonial. Nasionalisme dapat diwujudkan dalam sebuah identitas politik/kepentingan bersama dalam bentuk sebuah wadah yang disebut bangsa (nation) dengan demikian bangsa (nation) merupakan suatu badan (wadah) yang didalamnya terhimpun orang-orang yang memiliki persamaan keyakinan dan persamaan lain yang mereka miliki seperti : ras, etnis, agama, bahasa dan budaya. Dari unsur persamaan tersebut semuanya dapat dijadikan sebagai identitas politik bersama untuk menentukan tujuan bersama. Menurut Dean A. Mix dan Sandra M. Hawley, nation-state merupakan sebuah bangsa yang memiliki bangunan politik seperti ketentuan-ketentuan perbatasan teritorial pemerintah sah, pengakuan bangsa lain dan sebagainya. Menurut Koerniatmante Soetoprawiro secara hukum peraturan tentang kewarganegaraan merupakan suatu konsekuensi langsung dari perkembangan nasionalisme.

Fase I

Merupakan fase dimana Indonesia belum terbentuk, yang ada adalah kerajaan-kerajaan seperti Majapahit. Pada abad ke-4 hingga abad ke-7 di wilayah Jawa Barat terdapat kerajaan bercorak Hindu-Budha yaitu kerajaan Tarumanagara yang dilanjutkan dengan Kerajaan Sunda sampai abad ke-16. Pada masa abad ke-7 hingga abad ke-14, kerajaan Buddha Sriwijaya berkembang pesat di Sumatra. Penjelajah Tiongkok I Ching mengunjungi ibukotanya Palembang sekitar tahun 670. Pada puncak kejayaannya, Sriwijaya menguasai daerah sejauh Jawa Barat dan Semenanjung Melayu. Abad ke-14 juga menjadi saksi bangkitnya sebuah kerajaan Hindu di Jawa Timur, Majapahit. Patih Majapahit antara tahun 1331 hingga 1364, Gajah Mada berhasil memperoleh kekuasaan atas wilayah yang kini sebagian besarnya adalah Indonesia beserta hampir seluruh Semenanjung Melayu. Islam hadir di Indonesia sekitar abad ke-12, namun sebenarnya Islam sudah sudah masuk ke Indonesia pada abad 7 Masehi. Saat itu sudah ada jalur pelayaran yang ramai dan bersifat internasional melalui Selat Malaka yang menghubungkan Dinasti Tang di Cina, Sriwijaya di Asia Tenggara dan Bani Umayyah di Asia Barat sejak abad 7. Islam terus mengokoh menjadi institusi politik yang mengemban Islam. Misalnya, sebuah kesultanan Islam bernama Kesultanan Peureulak didirikan pada 1 Muharram 225 H atau 12 November 839 M. Contoh lain adalah Kerajaan Ternate. Islam masuk ke kerajaan di kepulauan Maluku ini tahun 1440. Rajanya seorang Muslim bernama Bayanullah.

Kesultanan Islam kemudian semikin menyebarkan ajaran-ajarannya ke penduduk dan melalui pembauran, menggantikan Hindu sebagai kepercayaan utama pada akhir abad ke-16 di Jawa dan Sumatera. Hanya Bali yang tetap mempertahankan mayoritas Hindu. Di kepulauan-kepulauan di timur, rohaniawan-rohaniawan Kristen dan Islam diketahui sudah aktif pada abad ke-16 dan 17, dan saat ini ada mayoritas yang besar dari kedua agama di kepulauan-kepulauan tersebut.

Penyebaran Islam dilakukan melalui hubungan perdagangan di luar Nusantara; hal ini, karena para penyebar dakwah atau mubaligh merupakan utusan dari pemerintahan Islam yang datang dari luar Indonesia, maka untuk menghidupi diri dan keluarga mereka, para mubaligh ini bekerja melalui cara berdagang, para mubaligh inipun menyebarkan Islam kepada para pedagang dari penduduk asli, hingga para pedagang ini memeluk Islam dan meyebarkan pula ke penduduk lainnya, karena umumnya pedagang dan ahli kerajaan lah yang pertama mengadopsi agama baru tersebut. Kerajaan Islam penting termasuk diantaranya: Kerajaan Samudera Pasai, Kesultanan Banten yang menjalin hubungan diplomatik dengan negara-negara Eropa, Kerajaan Mataram, dan Kesultanan Ternate dan Kesultanan Tidore di Maluku. Pada masa ini hanya terbentuk kesatuan-kesatuan kelompok masyarakat yang tertentu saja, belum ada kesatuan yang kokoh sebagai sebuah bangsa melainkan kerajaan-kerajaan baik berlatarbelakang kesamaan budaya maupun kesamaan agama. Nasionalisme sebagai suatu bangsa belum terbentuk karena cenderung masing-masing kerajaan membela keberlangsungan kerajaannya sendiri bahkan terkadang perang dengan kerajaan lain untuk memperluas wilayah kerajaannya.

Fase II

Kolonisasi Portugis dan Spanyol

Afonso (kadang juga ditulis Alfonso) de Albuquerque. Karena tokoh inilah, yang membuat kawasan Nusantara waktu itu dikenal oleh orang Eropa dan dimulainya Kolonisasi berabad-abad oleh Portugis bersama bangsa Eropa lain, terutama Inggris dan Belanda.

Dari Sungai Tagus yang bermuara ke Samudra Atlantik itulah armada Portugis mengarungi Samudra Atlantik, melewati Tanjung Harapan Afrika, menuju Selat Malaka. Dari sini penjelajahan dilanjutkan ke Kepulauan Maluku untuk mencari rempah-rempah, komoditas yang setara emas kala itu.

Ada sejumlah motivasi mengapa Kerajaan Portugis memulai petualangan ke timur. Ahli sejarah dan arkeologi Islam Uka Tjandrasasmita dalam buku Indonesia-Portugal: Five Hundred Years of Historical Relationship (Cepesa, 2002), mengutip sejumlah ahli sejarah, menyebutkan tidak hanya ada satu motivasi Kerajaan Portugis datang ke Asia. Ekspansi itu mungkin dapat diringkas dalam tiga kata bahasa Portugis, yakni feitoria, fortaleza, dan igreja. Arti harfiahnya adalah emas, kejayaan, dan gereja atau perdagangan, dominasi militer, dan penyebaran agama Katolik .

Menurut Uka, Albuquerque, Gubernur Portugis Kedua dari Estado da India, Kerajaan Portugis di Asia, merupakan arsitek utama ekspansi Portugis ke Asia. Dari Goa, ia memimpin langsung ekspedisi ke Malaka dan tiba di sana awal Juli 1511 membawa 15 kapal besar dan kecil serta 600 tentara. Ia dan pasukannya mengalahkan Malaka 10 Agustus 1511. Sejak itu Portugis menguasai perdagangan rempah-rempah dari Asia ke Eropa. Setelah menguasai Malaka, ekspedisi Portugis yang dipimpin Antonio de Abreu mencapai Maluku, pusat rempah-rempah.

Fernando Magelhans (kadang juga ditulis Ferdinan) Magelan. Karena tokoh inilah, yang memimpin armada yang pertama kali mengelilingi dunia dan membuktikan bahwa bumi bulat, saat itu itu dikenal oleh orang Eropa bumi datar. Dimulainya Kolonisasi berabad-abad oleh Spanyol bersama bangsa Eropa lain, terutama Portugis,Inggris dan Belanda.

Dari Spanyol ke Samudra Pasifik itulah armada Portugis mengarungi Samudra Pasifik, melewati Tanjung Harapan Afrika, menuju Selat Malaka. Dari sini penjelajahan dilanjutkan ke Kepulauan Maluku untuk mencari rempah-rempah, komoditas yang setara emas kala itu.

Kedatangan Portugis dan Spanyol untuk mencari rempah-rempah pada masa itu awalnya disambut baik oleh penduduk sekitar. Namun lama kelamaan penduduk merasa keberadaan kedua pemerintahan negara itu semakin tidak menguntungkan bagi penduduk. Keberadaan Spanyol dan Portugis pada masa itu mampu mengalahkan kekuasaan kerajaan-kerajaan lain yang telah ada di Nusantara sehingga peran keduannya semakin besar. Pada masa itu mulai ada interaksi antar penduduk karena kekuasaan kerajaan mulai pudar dan dengan semakin berkembangnya interaksi, mulai ada kesamaan nasib dan kesamaan budaya namun belum begitu kuat. Pada masa ini juga rasa nasionalisme belum tumbuh kuat.

Fase III

Kolonisasi VOC

Mulai tahun 1602 Belanda secara perlahan-lahan menjadi penguasa wilayah yang kini adalah Indonesia, dengan memanfaatkan perpecahan di antara kerajaan-kerajaan kecil yang telah menggantikan Majapahit. Satu-satunya yang tidak terpengaruh adalah Timor Portugis, yang tetap dikuasai Portugal hingga 1975 ketika berintegrasi menjadi provinsi Indonesia bernama Timor Timur. Belanda menguasai Indonesia selama hampir 350 tahun, kecuali untuk suatu masa pendek di mana sebagian kecil dari Indonesia dikuasai Britania setelah Perang Jawa Britania-Belanda dan masa penjajahan Jepang pada masa Perang Dunia II. Sewaktu menjajah Indonesia, Belanda mengembangkan Hindia-Belanda menjadi salah satu kekuasaan kolonial terkaya di dunia. 350 tahun penjajahan Belanda bagi sebagian orang adalah mitos belaka karena wilayah Aceh baru ditaklukkan kemudian setelah Belanda mendekati kebangkrutannya. Pada abad ke-17 dan 18 Hindia-Belanda tidak dikuasai secara langsung oleh pemerintah Belanda namun oleh perusahaan dagang bernama Perusahaan Hindia Timur Belanda (bahasa Belanda: Verenigde Oostindische Compagnie atau VOC). VOC telah diberikan hak monopoli terhadap perdagangan dan aktivitas kolonial di wilayah tersebut oleh Parlemen Belanda pada tahun 1602. Markasnya berada di Batavia, yang kini bernama Jakarta.

Tujuan utama VOC adalah mempertahankan monopolinya terhadap perdagangan rempah-rempah di Nusantara. Hal ini dilakukan melalui penggunaan dan ancaman kekerasan terhadap penduduk di kepulauan-kepulauan penghasil rempah-rempah, dan terhadap orang-orang non-Belanda yang mencoba berdagang dengan para penduduk tersebut. Contohnya, ketika penduduk Kepulauan Banda terus menjual biji pala kepada pedagang Inggris, pasukan Belanda membunuh atau mendeportasi hampir seluruh populasi dan kemudian mempopulasikan pulau-pulau tersebut dengan pembantu-pembantu atau budak-budak yang bekerja di perkebunan pala.

Kolonisasi pemerintah Belanda

Setelah VOC jatuh bangkrut pada akhir abad ke-18 dan setelah kekuasaan Britania yang pendek di bawah Thomas Stamford Raffles, pemerintah Belanda mengambil alih kepemilikan VOC pada tahun 1816. Sebuah pemberontakan di Jawa berhasil ditumpas dalam Perang Diponegoro pada tahun 18251830. Setelah tahun 1830 sistem tanam paksa yang dikenal sebagai cultuurstelsel dalam bahasa Belanda mulai diterapkan. Dalam sistem ini, para penduduk dipaksa menanam hasil-hasil perkebunan yang menjadi permintaan pasar dunia pada saat itu, seperti teh, kopi dll. Hasil tanaman itu kemudian diekspor ke mancanegara. Sistem ini membawa kekayaan yang besar kepada para pelaksananya – baik yang Belanda maupun yang Indonesia. Sistem tanam paksa ini adalah monopoli pemerintah dan dihapuskan pada masa yang lebih bebas setelah 1870. Dengan dukungan dari negara Belanda, kekuasaan belanda di Indonesia semakin kuat dan merubah tujuan utama dari semula untuk berdagang menjadi menguasai sebagai daerah jajahan. Maka dengan melimpahnya sumber daya alam yang ada namun karena belum banyak sumber daya manusia, maka warga pribumi dijadikan pekerja-pekerja dengan paksaan yang keras secara besar-besaran dan melalui kesamaan rasa tertindas oleh warga pribumi, mulai timbul kesadaran untuk saling bersatu. Pada 1901 pihak Belanda mengadopsi apa yang mereka sebut Politik Etis (bahasa Belanda: Ethische Politiek), yang termasuk investasi yang lebih besar dalam pendidikan bagi orang-orang pribumi, dan sedikit perubahan politik. Di bawah gubernur-jendral J.B. van Heutsz pemerintah Hindia-Belanda memperpanjang kekuasaan kolonial secara langsung di sepanjang Hindia-Belanda, dan dengan itu mendirikan fondasi bagi negara Indonesia saat ini. Melalui politik etis ini, sebagian warga pribumi yang memiliki kesempatan berusaha belajar dan berusaha membangun kekuatan untuk melawan pemerintah kolonial melalui kekuatan-kekuatan politik dan kecerdasan. Indonesia telah dijajah oleh bangsa Barat sejak abad XVII, namun kesadaran nasional sebagai sebuah bangsa baru muncul pada abad XX. Kesadaran itu muncul sebagai akibat dari sistem pendidikan yang dikembangkan oleh pemerintah kolonial. Karena, melalui pendidikanlah muncul kelompok terpelajar atau intelektual yang menjadi motor penggerak nasionalisme Indonesia. Melalui tangan merekalah, perjuangan bangsa Indonesia di dalam membebaskan diri dari belenggu kolonialisme dan imperialisme Barat memasuki babak baru. Inilah yang kemudian dikenal dengan periode pergerakan nasional. Perjuangan tidak lagi dilakukan dengan perlawanan bersenjata tetapi dengan menggunakan organisasi modern.

Ide-ide yang muncul pada masa pergerakan nasional hanya terbatas pada para bangsawan terdidik saja. Selain merekalah yang mempunyai tingkat pendidikan yang tinggi juga karena hanya kelompok bangsawanlah yang mampu mengikuti pola pikir pemerintah kolonial. Mereka menyadari bahwa pemerintah kolonial yang memiliki organisasi yang rapi dan kuat tidak mungkin dihadapi dengan cara tradisional sebagaimana perlawanan rakyat sebelumnya. Inilah letak arti penting organisasi modern bagi perjuangan kebangsaan.

Fase IV

Pada tahap ini di masing-masing daerah terbentuk kelompok-kelompok perjuangan namun tidak langsung mengikrarkan diri sebagai kelompok perlawanan namun dengan latar belakang kelompok-kelompok pemuda, kedaerahan maupun pendidikan. Seperti contoh adalah pembentukan Budi Utomo. Organisasi kedaerahan seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Ambon, Jong Celebes dan lain-lain terdapat dipersatukan. ”Manifesto Politik” Persatuan Indonesia (PI) di Belanda tahun 1925 adalah penegasan pertama dari sikap bersama kaum nasionalis vis a vis rezim kolonial. Itu kemudian dilanjutkan dengan Sumpah Pemuda 1928. Pada akhirnya yang mereka perjuangkan tentu bukan sekedar kemerdekaan itu sendiri, melainkan suatu ”cetak-biru” (blue-print) Indonesia Merdeka. Cetak-biru Indonesia Merdeka  ― suatu kompas, pedoman, untuk mencapai tujuan tertinggi  ―  terletak dalam Pembukaan UD 1945, termasuk di dalamnya rumusan Pancasila. Isinya antara lain ialah:

–          Terbentuknya pemerintahan yang melindungi segenap anak-bangsa

–          Menyejahterakan rakyat (negara kesejahteraan);

–          Mencerdaskan kehidupan bangsa dan bukan membodohinya.

–          Ikut berperan serta dan setara dalam kancah internasional.

Itulah produk pemikiran terbaik dari para pendiri bangsa ini, yang diperjuangkan hampir setengah abad lamanya dan mencapai klimaksnya selama perang kemerdekaan (1945-1950). Keberadaan negara Indonesia semakin diperkuat setelah sebelumnya penyebutan istilah Indonesia telah disebutkan oleh berbagai ahli dan organisasi seperti :

·J.R. Logan menggunakan istilah Indonesia untuk menyebut penduduk dan kepulauan nusantara dalam tulisannya pada tahun 1850

·Earl G. Windsor dalam tulisannya di media milik J.R. Logan tahun 1850 menyebut penduduk nusantara dengan Indonesia

·Serta tokoh-tokoh yang mempopulerkan istilah Indonesia di dunia internasional

 Istilah Indonesia dijadikan pula nama organisasi mahasiswa di negara Belanda yang awalnya bernama ”Indische Vereninging” menjadi ”Perhimpunan Indonesia”

 Nama majalah ”Hindia Putra” menjadi ”Indonesia Merdeka”

 Istilah Indonesia semakin populer sejak Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Melalui Sumpah Pemuda kata Indonesia dijadikan sebagai identitas kebangsaan yang diakui oleh setiap suku bangsa, organisasi-organisasi pergerakan yang ada di Indonesia maupun yang di luar wilayah Indonesia.

 Kata Indonesia dikukuhkan kembali dalam Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945

Fase V

Periode Orde Lama, masa pemerintahan Soekarno. Pelembagaan militer yang dini pun memperparah wacana nasionalisme yang sesungguhnya. Langsung saja, dalam waktu singkat, militer mampu menjadi satu kekuatan besar dalam perpolitikan tanah air. Hanya dalam kurun di bawah 10 tahun, Dwifungsi sebagai manifesto kekuatan politik militer dalam sistem
politik Republik Indonesia, telah menjadi satu keputusan yang Soekarno sendiri tak mampu membendungnya. Mau tak mau, usaha untuk menuju pemerintahan dengan sistem parlementer (1955-1959) sebagai satu syarat mutlak demokrasi harus berhenti di tengah jalan. Soekarno yang disebut sebagai salah satu the founding father dengan semangat nasionalismenya berusaha mempertahankan apa yang dinilainya benar, sikap nasionalisme beliau terkesan lama kelamaan bergeser menjadi terpimpin dimana semua keputusan berada di tangannya. Paham nasionalisme bercampur aduk dengan komunisme dimana negara Indonesia dapat disebut masih mencari jati diri yang sesuai sehingga masih menyerap sistem-sistem negara lain. Soekarno yang tetap waspada pada ancaman kudeta pihak militer pada akhirnya hanya bisa bertahan dengan merangkul pihak komunis. Dan terjadilah peristiwa 1965 itu sehingga Soekarno jatuh. Hilangnya rasa nasionalisme juga dapat dipahami karena hilangnya musuh bersama sehingga kesatuan diantara warga negara juga semakin menurun karena itu gampang terpecah.

Fase VI

Periode Orde Baru, mungkin apabila terjadi masa terburuk bagi dunia pendidikan negeri ini, adalah masa pemerintahan Soeharto. Mungkin secara ekonomi terjadi perkembangan yang pesat, meski hanya semu. Namun secara ideologis, apalagi nasionalisme, terjadi pembiasan yang sangat serius. Semua apa yang telah diadopsi dari Jepang (pada waktu itu, Jepang sekarang sudah berubah), yaitu Rasisme dan Fascisme ini langsung ditanamkan sampai ke
akar-akar di benak generasi muda Republik ini. Kebencian terhadap bangsa asing (terutama Belanda tentu saja) ditanamkan dari awal, dan tanpa tambahan pemahaman bahwa Belanda harus dibenci karena dan hanya karena mereka telah menjadi imperialis dan kolonialis. Sehingga bukan karena mereka orang Belanda, tapi, sekali lagi tapi, karena mereka adalah imperialis dan kolonialis. Bangsa sendiri pun bisa menjadi imperialis dan kolonialis, tidak hanya Belanda, tidak hanya Jepang, Amerika, atau negara manapun juga. Namun, sekali lagi demi posisi pemerintahan, pengertian ini sengaja dihilangkan. Ketakutan akan bangkitnya kesadaran rakyat sehingga akan menggulingkan posisi sebuah rezim lebih berharga dari kewajiban seorang penguasa untuk mengayomi rakyat dan memberikan jalan terang untuk rakyatnya. Bahkan mempelajari Marxisme sebagai satu negasi dari kapitalisme yang merupakan penjelmaan kolonialisme imperialisme pun dilarang. Terjadi sentralisasi kekuatan dan sistem partai tunggal (sepertinya tiga, namun itu ditentukan, apa bedanya dengan partai tunggal). Dan nasionalisme pun menjadi nasionalisme ala Hitler dan Mussolini yang tidak pernah sekalipun terbayangkan oleh pelopor nasionalisme di negeri ini sendiri. Pada masa ini kesatuan warga negara dengan rasa kesamaan nasib ditindas menjadi bangkit dan dengan gerakan rakyat berusaha menjatuhkan rezim Soeharto yang otoriter dan rasa kesatuan itu tumbuh dengan semangat yang tinggi diantara warga negara sehingga akhirnya kepemimpinan otoriter itu akhirnya dapat tumbang.

Fase VII

Periode masa Reformasi, dimana indonesia sebagai suatu negara memasuki suatu masa kebebasan setelah melalui masa panjang kepemimpinan orde baru yang akhirnya dapat ditumbangkan dengan gerakan rakyat. Semangat yang begitu besar untuk menumbangkan rezim otoriter itu memberi kesamaan rasa dan membangkitkan keinginan untuk mau bersama-sama berjuang membela kepentingan bersama. Masa-masa setelah orde baru tumbang dan berubah menjadi reformasi masih diliputi oleh semangat kebersamaan sebagai warga negara Indonesia. Namun dengan semakin berkembangnya Indonesia dan mulai tenangnya keadaan Indonesia, semangat kebersamaan itu mulai luntur sedikit demi sedikit dan terkikis. Masing-masing warga negara mulai menunjukkan sifat individualitasnya dan mulai tidak ingin terlalu akrab dengan warga negara lainnya. Keadaan ini juga dipahami karena mulai tenangnya keadaan Indonesia dan hilangnya musuh bersama. Tidak ada lagi semangat menjatuhkan musuh bersama dengan berjuang bersama, masing-masing mulai sibuk dengan urusannya masing-masing dan tidak memperdulikan sesamanya. Tidak adanya lagi musuh bersama membuat keadaan tidak genting lagi dan semangat nasionalisme menjadi turun kembali.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: